Nasional
Beranda » Berita » Hiwapraja: Strategi Militan Para Wadah Perisai, Melindungi Pekerja Rentan Jawa Barat

Hiwapraja: Strategi Militan Para Wadah Perisai, Melindungi Pekerja Rentan Jawa Barat

Para Wadah Perisai se-Jawa Barat, berpose bersama usai pembentukan Hiwapraja. ( Dok. Hiwapraja)
Para Wadah Perisai se-Jawa Barat, berpose bersama usai pembentukan Hiwapraja. ( Dok. Hiwapraja)

RUZKA-REPUBLIKA NETWORK — Kabut tipis pagi itu turun perlahan di lereng Vila Cipendawa, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Udara menggigit pelan, tetapi semangat orang-orang yang datang justru menghangatkan suasana. Satu per satu mobil memasuki halaman vila, membawa para pemilik Wadah Perisai (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia) yang selama ini bekerja dari balik gang, pasar, pangkalan ojek, hingga desa-desa kecil di segenap sudut Jawa Barat.

Mereka datang membawa keresahan yang sama: di luar sana, jutaan pekerja rentan masih berjalan tanpa jaminan perlindungan sosial.

Langkah kecil yang selama ini ditempuh masing-masing Wadah Perisai terasa tak lagi cukup.

Di ruang sederhana itulah muncul kesadaran bahwa kekuatan yang terpencar harus dihimpun, agar lebih banyak nyawa bisa dipayungi.

Dari Depok, Sukabumi, Bandung, Cianjur, Garut, Cimahi, Bekasi, Cileungsi, Bogor, Purwakarta, Pelabuhan Ratu, hingga Karawang — kota-kota itu seperti titik cahaya yang selama ini bekerja sendiri-sendiri, namun pagi itu bergerak menuju satu tujuan yang sama: menyatukan langkah.

Presiden Prabowo: Pemimpin Harus Hadir untuk Rakyat, Bukan Diri Sendiri!

Untuk pertama kalinya, jejak-jejak yang berjalan dan berlari sendirian selama bertahun-tahun itu bertemu dalam satu ruangan. Ada haru, ada lega, ada keyakinan bahwa perjalanan Wadah Perisai yang bertahun-tahun ditempuh dalam kesunyian, kini menemukan rumahnya.

Jejak yang Berhimpun

Ketika Ahmad Jafar Sidik (45), pemilik Wadah Perisai, Andalan Sukses Semesta, Depok, berdiri di hadapan mereka, suasana bergeser seolah kabut disibakkan matahari pertama.

“Sudah saatnya kita menghimpun kekuatan yang selama ini bergerak sendiri-sendiri,” ujarnya. Kalimat itu sederhana, tetapi membuka pintu lahirnya sejarah kecil pada hari itu.

“Hiwapraja lahir dari keresahan bersama,” jelas Jafar saat ditemui Ruzka Indonesia, di Depok, Kamis (20/11/2025). “Ini bukan tentang Wadah Perisai siapa yang paling hebat, tapi tentang siapa yang siap melindungi lebih banyak pekerja rentan di Jawa Barat.”

Dialog Prabowo dengan Tokoh Kritis Layak Diapresiasi

Para Wadah Perisai rapat bersama saat pembentukan Hiwapraja. (Dok.Hiwapraja)
Para Wadah Perisai rapat bersama saat pembentukan Hiwapraja. (Dok.Hiwapraja)

Cermin Jawa Barat

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan gambaran yang menggelisahkan. Per Agustus 2025, Jawa Barat menempati posisi ketiga, tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi di Indonesia, yakni 6,77%. Di waktu yang sama, 54,95% tenaga kerjanya adalah pekerja informal—lebih dari separuh masyarakat bekerja tanpa perlindungan sosial memadai.

Secara nasional, angka itu bahkan lebih besar: 84,7 juta pekerja informal (57,80%), berbanding 61,84 juta pekerja formal (42,20%).

Jurang perlindungan sosial ini terlalu lebar untuk ditutup kebijakan pemerintah saja. Dibutuhkan gerakan akar rumput yang bergerak dari lorong-lorong padat, lapak kaki lima, pangkalan ojek, pasar, hingga bengkel-bengkel kecil di pinggir kota.

Inilah konteks yang melahirkan Hiwapraja—gerakan kolektif berbasis lapangan untuk menjangkau mereka yang paling rentan.

Bikers Superhero Teguhkan Kepedulian Sosial Lewat Pengukuhan Chapter Dinkes dan RSUD Majalengka

Langkah yang Disatukan

Di ruang sederhana itu, spanduk panjang terbentang isinya:

“Silaturahim Wadah Perisai Jawa Barat – Meningkatkan Produktivitas Wadah melalui Sharing Strategi dan Silaturahim.”

Sebanyak 22 Wadah Perisai hadir dari kota-kota yang telah disebutkan sebelumnya, mengikat komitmen untuk memperluas perlindungan sosial hingga pelosok daerah di Jawa Barat.

Paling depan, kiri - Ahmad Jafar Sidik, Ketua Umum Terpilih Hiwapraja (Dok.Hiwapraja)
Paling depan, kiri – Ahmad Jafar Sidik, Ketua Umum Terpilih Hiwapraja (Dok.Hiwapraja)

Jafar lalu memimpin deklarasi.

"Hari ini, Minggu, 16 November 2025, kami mendeklarasikan Himpunan Wadah Perisai Jawa Barat, atau disingkat Hiwapraja.”

Jafar menambahkan, sepengetahuan dirinya, Hiwapraja merupakan organisasi Himpunan Wadah Perisai, pertama di Indonesia—tonggak awal yang ia harapkan dapat menjadi model bagi provinsi lain dalam memperkuat perlindungan pekerja rentan.

Setelah deklarasi itu, Jafar menjelaskan cara kerja yang ingin mereka bangun bersama—cara kerja yang menuntut keteguhan, disiplin, dan keberanian untuk turun langsung menghadapi realitas di lapangan.

“Sejak awal kami sepakat, kerja Wadah Perisai itu nggak bisa santai atau nunggu orang datang sendiri,” kata Jafar.

Pekerja rentan itu hidupnya berpindah terus. Ada yang jualan dari subuh, ada yang narik ojek sampai malam, ada yang kerja di gang-gang sempit. Jadi, ya kita harus datang ke tempat mereka. Menjemput, bukan menunggu, ucapnya.

Ia menjelaskan, sejak Hiwapraja terbentuk, mereka ingin punya cara kerja yang saling menguatkan.

“Kami turun ke pasar sejak subuh, ke pangkalan ojek, ke warung kopi malam, ke rumah kontrakan satu per satu. Kami ajak ngobrol pelan-pelan. Banyak dari mereka yang merasa hidupnya terlalu kecil sampai-sampai nggak yakin kalau negara mau melindungi mereka. Tugas kita meyakinkan bahwa mereka juga berhak dilindungi.”

Baca juga: Perkuat Jejaring Global, Rektor UI Resmi Jadi Advisor di South China Normal University

Menurut Jafar, Hiwapraja bukan sekadar kumpulan Wadah Perisai, tapi tempat berbagi ilmu dan pengalaman.

“Teman-teman ini nggak kerja sendirian. Kita saling cerita, saling bantu, saling kasih strategi. Kalau ada peserta kena musibah, kita datang duluan—kadang sebelum keluarga tahu harus mulai dari mana. Kita dampingi sampai urusannya beres. Supaya mereka merasa ada yang menemani.”

Jafar menegaskan bahwa fokus mereka bukan jumlah angka peserta di laporan, tapi keberadaan mereka saat dibutuhkan.

“Orang-orang ini hidupnya berat, dan kadang mereka nolak duluan karena takut atau nggak percaya. Tapi kita harus lebih sabar dari kerasnya hidup mereka. Kadang harus jelasin hal yang sama berulang kali. Kadang pulang jam sepuluh malam hanya untuk meyakinkan satu orang. Sebab dari satu orang itu, bisa menyelamatkan satu keluarga.”

Ia menambahkan bahwa perlindungan sosial akan kuat kalau lingkungan juga paham manfaatnya.

“Kami ingin bangun ekosistem, bukan cuma daftar nama peserta. Ada yang ikut, lalu ngajak tetangganya. Ada yang pernah menerima manfaat, lalu ingin bantu orang lain. Dari situlah gerakan ini jadi besar. Pelan-pelan, tapi nyata.”

Di akhir pernyataannya, Jafar menegaskan: “Kita ini tidak sedang mengejar angka. Kita sedang memastikan tidak ada seorang pun dibiarkan berjalan sendirian ketika hidup tiba-tiba berubah. Selama kita masih bisa berjalan dan masih bisa bicara, kita akan terus mendatangi mereka. Itu komitmen yang kami jaga.”

Wajah-Wajah Lapangan

Setiap Wadah Perisai yang membina Agen Perisai, membawa kisah perjuangan yang tidak pernah seragam. Ada yang berangkat sebelum subuh menyusuri pasar tradisional, saat embun masih menempel di daun kol. Ada yang mendatangi pedagang kaki lima—penjual bubur, gorengan, hingga penjahit keliling.

Ada yang masuk ke gang sempit tempat pekerja rumahan menganyam, merangkai kerajinan, atau menjahit dengan upah borongan. Ada pula yang bersandar di pangkalan ojek daring, dan kurir paket, menunggu jeda order sekadar menjelaskan manfaat jaminan perlindungan sosial.

Mereka menyapa buruh bangunan yang beristirahat di bawah bayang gedung, pemulung yang memilah plastik di Tempat Pembuangan Sampah (TPS), tukang parkir yang berdiri seharian di bawah terik matahari, hingga pekerja serabutan yang hidup dari panggilan harian. Agen Perisai hadir di tempat-tempat yang tak pernah tersentuh brosur BPJS Ketenagakerjaan.

Baca juga: Catatan Cak AT: Hakim Logika Dengkul

Ada sosok Siti Dahuriah (46), Agen Perisai dari Wadah Perisai, Nadi Insan Khatulistiwa, Depok. Tantangan terbesarnya bukan menjelaskan program, tetapi membongkar rasa minder para pekerja rentan.

“Banyak yang merasa hidupnya terlalu kecil untuk dilindungi,” ujarnya.

Hari-harinya dihabiskan dari warung kopi, kontrakan tiga petak, lapak pulsa, hingga rumah buruh lepas yang baru pulang saat hari sudah gelap. Ada satu kalimat yang selalu Siti ingat.

“Bu,” kata seorang buruh serabutan, “Saya ini siapa sampai negara mau lindungi saya?”

Siti menjawab pelan, “Bapak bekerja. Bapak menafkahi keluarga. Itu cukup untuk dilindungi.”

Sejak April 2025, ia baru menjemput 72 pekerja rentan. “Angkanya kecil, tapi setiap satu orang itu seperti menyalakan lilin di tempat gelap.”

Ada lagi satu kisah di lapangan yang mengubah arah hidup seseorang. Dari Wadah Perisai, Mustofa Dedikasi Negeri (Madani), Depok, mengalir cerita yang menghangatkan sekaligus menyesakkan dada: kisah Soeharmoko (57), ayah dari dua orang anak ini.

Ada dua perempuan terkasih dalam hidupnya—ibunya dan istrinya—yang saat ini masih terbaring sakit. Namun setiap pagi ia tetap berangkat, membawa dua beban sekaligus: merawat keluarganya di rumah, dan menjaga harapan keluarga orang lain di luar rumah.

“Sesibuk apa pun, pulangnya tetap untuk mereka,” katanya kepada Ruzka Indonesia, di Depok, Kamis (20/11/2025).

Sejak Agustus 2023, lebih dari 500 pekerja rentan telah ia rangkul satu per satu—bukan lewat acara besar, tapi lewat obrolan di gang sempit dan padat, pangkalan ojek, warung kecil, dan teras rumah orang. Angka itu bukan sekadar jumlah; itu adalah lima ratus keluarga yang kini punya pegangan, ketika hidup tiba-tiba berubah karena suatu musibah.

Baca juga: Indosat Konektivitaskan 'Lidah Menari-nari' Dapoerinduu, Sajikan Brownies Sehat Bercitarasa Cokelat Keju

Salah satu kisah yang paling mengubah hatinya adalah pertemuannya dengan Yuliana (47), istri ahli waris dari Ade Pati Lisdiawan, pengemudi ojek daring yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan selama dua tahun lebih.

Pada 14 Mei 2025, suaminya wafat, di RS Sentra Medika, Cibinong, Jawa Barat, karena sakit. Dalam kebingungan, 14 Juli 2025, ia datang kepada Soeharmoko. Klaim Jaminan Kematian (JKM) cair seminggu setelah pengajuan, Rp42 juta yang menjadi pegangan di tengah duka.

“Di situ saya tertegun,” ujar Yuliana. “Saya baru benar-benar merasakan manfaat perlindungan jaminan sosial itu.”

Pengalaman itu membuatnya ingin menjadi Agen Perisai dengan niat utama menyebarkan manfaat untuk keluarga terdekat dan lingkungan tempat tinggalnya.

Kini, Yuliana sudah merangkul lebih dari 250 pekerja rentan untuk mendapatkan jaminan sosial, sejak ia bergabung Juli 2025 lalu.

Bagi Soeharmoko, keputusan Yuliana itu adalah bukti betapa manfaat jaminan perlindungan sosial bukan sekadar angka di laporan, tetapi penyelamat hidup.

Wajah-wajah Itu adalah Nadi Gerakan

Kisah Siti, Soeharmoko, Yuliana, dan ratusan Agen Perisai lain adalah denyut gerakan ini. Mereka mendatangi tempat yang tak pernah muncul di laporan resmi, mendengar cerita yang tak muncul di meja rapat, dan menjemput pekerja satu per satu agar tidak ada yang berjalan sendirian.

Mereka menjaga agar harapan tetap hidup di warung kecil, pangkalan ojek, rumah kontrakan sempit, dan di hati mereka yang selama ini merasa luput dari perhatian negara.

Suara Pemerintah

Menurut Novarina Azli, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Depok, peran Hiwapraja sangat signifikan.

“Himpunan para Wadah Perisai seperti Hiwapraja sangat membantu percepatan perlindungan pekerja rentan. Mereka menjangkau titik-titik yang sulit kami dekati dari kantor,” ujarnya kepada Ruzka Indonesia di kantornya, Kamis (20/11/2025).

Per 3 November 2025, peserta aktif Bukan Penerima Upah (BPU) di Depok mencapai 50,9 ribu orang.

Kontribusi Wadah Perisai berperan turut memperkuat capaian ini, terlebih karena pekerja informal, di Depok mencapai 25,73% dari total peserta. Total peserta aktif pada seluruh segmen di BPJS Ketenagakerjaan Depok, data per 31 Oktober 2025 mencapai 197 ribu orang.

Di tingkat provinsi, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Jawa Barat, Kunto Wibowo, menyebut Hiwapraja sebagai gerakan sosial.

“Hiwapraja lahir dari kesadaran bahwa perlindungan pekerja rentan tidak boleh menunggu,” kata Kunto.

Validasi Akademis

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Yogyakarta, sekaligus peneliti ketenagakerjaan, Qisha Quarina, S.E., M.Sc., Ph.D, menguatkan itu.

“Inisiatif berbasis komunitas seperti Hiwapraja adalah kunci perlindungan inklusif. Mereka bekerja bukan dari balik meja, tetapi dari gang ke gang, pasar ke pasar.”

Mayoritas tenaga kerja Indonesia adalah pekerja informal. Tanpa ekosistem perlindungan adaptif, mereka akan terus berada di tepi jurang, karena belum mendapatkan perlindungan jaminan sosial secara memadai.

“Kolaborasi antar Wadah Perisai adalah jembatan sebelum negara hadir secara formal,” tegasnya.

Rumah Strategi

Pada momen itu, ketika struktur organisasi Hiwapraja diumumkan, Ahmad Jafar Sidik dari Depok terpilih sebagai Ketua Umum, didampingi Dewi Puspitawaty dari Bandung sebagai Sekretaris, dan Asep Daryana dari Garut sebagai Sekretaris II. Posisi Bendahara dipercayakan kepada Yeni Indriati dari Sukabumi, sementara Bagas Ki Patigeni dari Cianjur ditunjuk sebagai Bendahara II.

Tepuk tangan memenuhi ruangan, bukan sekadar untuk nama-nama itu, tetapi untuk harapan yang mereka pikul bersama.

“Hiwapraja kami bangun sebagai rumah besar yang menyatukan seluruh Wadah Perisai di Jawa Barat dengan semangat ‘Jabar Ka Hiji’. Tujuannya jelas: memperkuat konsolidasi, mempererat kolaborasi, dan menggerakkan Wadah Perisai agar bekerja lebih solid dan berdampak,” terang Jafar.

Suara yang Dilindungi

Dua kisah penerima manfaat jaminan sosial semakin menguatkan alasan mengapa gerakan ini perlu diperjuangkan.

Williyani (42), pengawas Tempat Pemungutan Suara (TPS) 107 Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, mengalami kecelakaan kerja saat mengangkut logistik Pemilu 2024 lalu.

Kakinya patah. Semua biaya senilai Rp122,9 juta ditanggung BPJS Ketenagakerjaan Kota Depok, mulai dari operasi hingga terapi.

“Saya baru tahu negara benar-benar hadir untuk kami,” ucapnya.

Kisah lain datang dari Lia (32), istri seorang pekerja rentan di Kecamatan Cipayung, Kota Depok, yang kehilangan suaminya karena meninggal dunia.

“Saat suami saya wafat, saya pikir hidup ikut berhenti,” katanya pelan.

Namun ketika petugas BPJS Ketenagakerjaan datang membawa santunan sebesar Rp42 juta, ia menangis. “Bukan karena jumlahnya, tetapi karena saya merasa tidak ditinggalkan.”

Komitmen Senja

Menjelang sore, kabut turun kembali di Vila Cipendawa. Diskusi belum usai. Agenda dibahas ulang, strategi diperkuat, komitmen dipertebal.

“Kalau Hiwapraja konsisten, kita bisa mengubah peta perlindungan pekerja rentan di Jawa Barat,” ujar Ryan (49), pemilik Wadah Perisai dari Bekasi.

“Dan kalau bukan kita yang jemput mereka,” timpal Jafar, “siapa lagi?”

Misi yang Baru Dimulai

Malam turun sempurna di Vila Cipendawa. Lampu-lampu vila menembus kabut, seolah menggambar garis-garis tipis harapan. Pertemuan resmi berakhir, tetapi semangat itu justru menyala lebih terang.

“Hiwapraja ini rumah kita,” kata Jafar sebelum menutup pertemuan.

"Rumah untuk saling menguatkan, dan membawa lebih banyak pekerja rentan di Jawa Barat ke tempat yang aman.”

Di lereng Cianjur yang kembali berselimut kabut, sebuah gerakan kecil mulai melangkah. “Jabar Ka Hiji” bukan lagi slogan. Ia telah berubah menjadi janji yang sedang mereka wujudkan bersama. (***)

Penulis: Djoni Satria/Wartawan Senior

Terpopuler

01

Merasa Dibackingi, Disegel Tetap Beroperasi, Satpol PP Depok Akhirnya Tutup Paksa Koat Coffee

02

Sempat Terhenti, Pembongkaran Bangunan Jogging Track di Badan Air Situ 7 Muara Sawangan Depok Dilanjutkan

03

Lapor KDM, Diintimidasi Preman, Pembongkaran Bangunan di Atas Air Situ 7 Muara Depok Terhenti!

04

Berlaku Nasional, Polres Garut Imbau Masyarakat Manfaatkan Layanan Gratis Contact Center 110

05

Suzuki Carry Minivan 2026, Irit dengan Kegagahan dan Kenyamanan

06

Depok akan Bangun Pabrik Pengelolaan Sampah RDF di TPA Cipayung

07

Warga Dukung Pembangunan Jogging Track Diatas Air Situ 7 Muara Depok, Benarkah Itu?

Sorotan






Kolom